Yohanes 11:43-44
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella
Kajian Teks
Teks ini penting dibaca dalam semangat Injil sebagai gerakan pembebasan. Sebab kebersamaan sebagai acuan operasional penatalayanan GPM dan AMGPM dalam tahun 2012 perlu dibangun dari sebuah pemahaman pentingnya membebaskan diri dari belenggu-belenggu yang selama ini membuat kebersamaan itu menjadi sebuah retorika dan wacana pelayanan sosial gereja. Sudah waktunya kita menelisik lebih mendalam ke sisi-sisi paling pokok mengenai mengapa kebersamaan itu perlu dan apa sumber motivasi teologi untuk mewujudkannya.
Kita berusaha belajar dari teks Yohanes 11:43-44 atau belajar dari posisi sikap Yesus dengan solidaritas belarasaNya yang memungkinkan orang kecil seperti Lazarus menjadi media pembelajaran baru bagi masyarakat. Lazarus yang hidupnya dikelilingi oleh sederetan peristiwa tragis juga merupakan korban pelecehan sosial dan spiritual di dalam konteks masyarakat umum. Ia dipaksakan oleh sistem sosial yang sangat arogan untuk berjuang dengan anjing memakan remah-remah sisa makanan orang kaya (baca Lukas 16:19-21). Injil Lukas menceritakan kematian Lazarus secara spiritualis, dan lebih menekankan aspek-aspek moral-etis.
Sedangkan teks Yohanes menceritakan sebuah kondisi ketimpangan sosial sebagai fakta dari kematian Lazarus itu. Kondisi ketimpangan sosial itu diinterupsi Yesus yang diceritakan sedih dan menangis (Yoh.11:35) dan mau menolong kesusahan Maria dan Martha, dua saudara perempuan Lazarus. Penting pula diperhatikan ungkapan Maria dan Martha dalam ay.21 dan 32 –tentang keyakinan mereka sekiranya Yesus ada beberapa hari lalu saat Lazarus meninggal.
Dalam cerita selanjutnya muncul tantangan-tantangan dari dalam komunitas murid Yesus sendiri, sekiranya Yesus membangkitkan Lazarus. Bagi para murid kemampuan Yesus menyembuhkan orang sakit, mencelikkan mata orang buta bukanlah jaminan Ia akan mampu membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari meninggal/mati. Kata Yunani untuk mati/meninggal di sini ialah te-teleutekotos yang secara jelas berarti kematian secara fisik dan benar-benar (bukan mati suri). Hal itu didukung oleh fakta bahwa dia sudah mati empat hari (tetartaios) dan sudah dikuburkan di dalam kubur batu.
Jadi selain tantangan internal, Yesus pun berhadapan dengan fakta yang jelas-jelas menantang yakni bahwa Lazarus sudah (benar-benar) mati. Situasi itu menjadi berat karena di antara orang banyak atau para murid yang bersama-sama dengan Dia, tidak ada semacam belarasa, padahal sebagai orang-orang terdekat Yesus, solidaritas sosial mereka sudah harus terbentuk secara baik. Justru di situlah aspek kebersamaan (solidaritas sosial) merupakan suatu perwujudan sikap percaya yang patut ditunjukkan secara praksis.
Hal saling percaya (mutual understanding) merupakan soal pokok dalam cerita ini, dan juga soal pokok dalam membangun kebersamaan untuk meningkatkan pelayanan sosial dalam arti sesungguhnya. Ketika hal saling percaya sulit dibentuk, maka pelayanan sosial dalam semangat kebersamaan menjadi niscaya. Padahal sebuah pelayanan sosial memerlukan keterpaduan sistem dan relasi antar-anggota kelompok/organisasi.
Cerita dalam teks Yohanes memperlihatkan bahwa sejak awal murid-murid Yesus mengalami krisis kepercayaan kepada Yesus yang membuat mereka menunjukkan sikap yang kurang kooperatif terhadap kepedulian sosial yang Yesus tunjukkan. Ini memang selalu mewarnai berbagai tindakan mujizat yang Yesus lakukan. Selain ada krisis kepercayaan para murid tetapi orang banyak, terutama para elite di masyarakat, juga menaruh sangsi yang besar terhadap kepedulian sosial dan kuasa Yesus.
Kondisi itu mampu menceritakan kepada kita bahwa halangan dalam pelayanan kepada orang lemah dan miskin selalu datang dari status quo. Orang yang merasa sudah mapan mampu mengunci akses kesejahteraan orang lain yang lemah/terbatas secara sosial.
Ini yang mau dibantah oleh Yesus dengan mengatakan dalam ay. 43 ‘Lazarus, marilah keluar’. Dalam teks dikatakan Yesus berseru dengan suara keras (baca. Berteriak/hokmat). Itu merefleksikan perlawanan Yesus terhadap semua tantangan yang ada dan menunjukkan bagaimana Yesus berkomitmen melakukan apa yang harus dilakukanNya. Yesus tidak memilih di antara sekian banyak pilihan untuk menolong kesusahan Maria dan Martha, melainkan menjalankan apa yang dikehendakiNya yakni ‘membangkitkan Lazarus’.
Solidaritas Yesus membuatnya memilih berpihak dan berada bersama dengan Lazarus dan keluarganya. Suatu bentuk empathy sebagai nilai dasar dari kebersamaan. Jadi tidak sebatas pada solidaritas melainkan empathy –yaitu sebuah pilihan untuk berada bersama dan bersama-sama dengan orang-orang yang lemah, terbatas, atau bermasalah. Dengan berteriak, Yesus melakukan protes terhadap sistem sosial yang kaku yang membuat orang lemah terus diperlemah. Yesus melawan arogansi seperti itu dan ‘menginstruksikan’ perlunya tindakan pertolongan kepada orang lemah.
Karena itu ungkapan ‘Lazarus, marilah keluar’, adalah instruksi (instruction) dan bukan permintaan (request). Sebagai instruksi sifatnya tegas. Jadi ‘marilah keluar’ bukanlah ajakan, melainkan perintah. Artinya Ia meruntuhkan tembok (kematian) yang menghalangi Lazarus menikmati hidup yang sesungguhnya. Ia merobohkan sistem sosial yang membuat orang miskin dan lemah tidak mendapati haknya secara wajar.
‘Lazarus, marilah keluar’ menunjuk pada pentingnya pribadi Lazarus bagi Yesus. Yesus memulihkan personalitas Lazarus. Tindakan itu merupakan bagian yang penting dalam pelayanan sosial gereja. Jati diri orang-orang yang lemah perlu dipulihkan. Jadi bukan soal dia bangkit dari kematian melainkan harkatnya sebagai manusia yang lemah dipulihkan.
Kemudian perintah Yesus di ayat terakhir ‘bukalah kain-kain itu dan biarkan dia pergi’ menunjukkan bahwa tujuan pemulihan Lazarus adalah agar dia terlepas dari lilitan dan kungkungan struktural yang membuat dia tidak berdaya. ‘Biarkan dia pergi’ dalam teks ini berarti melepaskan tanpa harus dicegah. Namun Yesus mendorong orang banyak kala itu dengan maksud melihat empathy mereka terhadap Lazarus. Perintah tadi menunjukkan bahwa Yesus mengingini adanya orang lain yang peduli. Kepedulian orang lain itu dapat memungkinkan Lazarus dapat dibebaskan, dilepaskan dari belenggu.
Sunday, November 20, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)