Thursday, May 13, 2010

TUHAN Menggendongku



Refleksi Yesaya 46:4 dalam Konteks Pembinaan Anak
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Beberapa metafora dalam Perjanjian Lama (PL) selalu menempatkan TUHAN sebagai orang tua; dalam peran seorang papa maupun mama. Metafora seperti itu menunjuk pada ikatan cinta yang terjalin antara TUHAN dengan manusia sebagai suatu ikatan permanen, sebab didasarkan pada rasa memiliki secara mendalam.

Bahkan kata ‘menggendong’ itu sendiri memperlihatkan bahwa TUHAN tetap setia melindungi anakNya sendiri. Perlindungan itu berlangsung di sepanjang hidup manusia itu. Lihat saja bagaimana Yesaya menggambarkan hal itu.

Dalam Yesaya 46:4, disampaikan: ‘Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu’.

Jika kita simak bersama apa maksud Yesaya, hal TUHAN ‘menggendong’ tentu terkait dengan rahasia pemilihan TUHAN (God election) terhadap Israel. Memang bangsa itu suka menggambarkan dirinya seperti itu, bahwa mereka memiliki hubungan spesial dengan TUHAN (Yhwh). Katanya, karena begitu spesialnya makanya TUHAN tidak bisa meninggalkan mereka. TUHAN, bagi mereka, terikat dengan janjiNya sendiri, dan TUHAN, bagi mereka pula, bukan tipe orang yang suka ingkar janji, walaupun mereka sendiri ingkar janji kepada TUHAN. Memang Israel selalu begitu. Berpikir seolah-olah TUHAN sudah ‘jatuh cinta berat’ kepada mereka; bahkan sepertinya TUHAN tidak bisa hidup tanpa mereka.

Di situlah sebenarnya implikasi lain dari pemahaman Israel mengenai diri mereka sebagai ‘umat pilihan Allah’. TUHAN seperti ‘dijebak’ oleh janji yang pernah diikatNya dengan leluhur mereka. Yang menarik adalah mereka membuat TUHAN tidak bisa keluar dari ikatan janji itu, sementara mereka selalu kedapatan keluar darinya; yakni dengan ingkar, bahkan menyembah Tuhan yang lain. Bentuk pemahaman teologi seperti ini yang membuat memang kesetiaan itu merupakan hal yang dilematis dalam hidup manusia.

‘Kita berjanji setia. Tetapi kamu yang harus lebih setia dan tidak boleh ingkar, sedangkan saya, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi bisa ingkar.’ Hal itu telah menjadi semacam kebiasaan yang suka sekali dilakukan seseorang terhadap pasangan atau anak atau orang tua, atau pimpinan, atau bawahannya. Dalam arti itu kesetiaan sering terpasung dalam posisi hierarkhi atau sub-ordinat, dan bukan dimengerti sebagai konsekuensi sebuah peran.

Kembali kepada maksud refleksi ini. Hubungan TUHAN sebagai orang tua (papa dan mama) menempatkan relasi antara TUHAN dengan manusia (secara kolektif sebagai anak-anak) dalam suatu realita peran yang kreatif dan teokratik.

Kreatif dalam arti hubungan itu adalah model hubungan yang alami, atau wajar, namun menjadi bagian dari proses pemberian hidup. Tiap relasi orang tua dan anak dalam arti kreatif terbingkai dalam sejumlah cara dan usaha agar relasi itu berlangsung secara harmonis, di mana orang tua bisa menjalankan perannya secara efektif dan anak-anak pun mampu memenuhi kewajiban dan tanggungjawabnya secara terbuka.

Ini yang menjadi alasan mengapa kita, dan Yesus pun, selalu menyebut TUHAN sebagai Bapak. Sesekali pun jika kita menyebut TUHAN sebagai Ibu, yang kita maksudkan di sini, IA adalah Ibu Yang Terpilih (elektĂȘ kuria). Dia ditempatkan dalam suatu posisi yang ideal, yang tentu memainkan fungsi yang dapat dirasakan secara positif oleh manusia, anak-anakNya itu.

Sedangkan model hubungan orang tua dan anak sebagai suatu model teokratik bermaksud untuk mengatakan bahwa hubungan itu berlangsung dalam ranah yang kudus. Manusia, anak-anak TUHAN itu selalu kedapatan menjadi anak-anak yang taat karena TUHAN, orang tua mereka itu tetap setia. Pemahaman ini berbeda dengan apa yang cenderung dilakukan orang-orang Yahudi. Bahwa karena TUHAN setia dan berlimpah kasih, walaupun mereka seringkali berdosa terhadapNya, toh Dia mengampuni.
Yang hendak kita tekankan di sini adalah ketaatan kita kepada TUHAN itu menjadi prinsip dari sikap hidup kita sebagai anak dalam relasi yang teokratik dengan TUHAN, orang tua kita itu.

Membina Anak
Karena itu, membina anak mesti berlangsung dalam suatu model relasi hubungan orang tua anak yang kreatif. Ada fungsi-fungsi penting yang mesti diperani orang tua (seperti mengajar, membina, memenuhi kebutuhan hidup anak, setia dalam relasi suami-istri, dll) yang menjadi kekuatan dalam memelihara keharmonisan tadi.
Sebaliknya anak pun dituntut untuk memenuhi kewajibannya dalam hal mendengar nasehat, mengikuti bimbingan dan anjuran yang baik, mewaspadai sikap dan tingkah laku agar tidak terjebak dalam hal-hal yang dilarang [terlarang].
Di situ akan tampak keharmonisan dan rasa cinta yang meluap, serta relasi yang utuh, laksana istilah ‘menggendong’ itu sendiri. (*)

No comments:

Post a Comment